Siapa yang tidak pernah mengenal dan tahu tentang Gardu Ronda. Di setiap desa tempat ini berfungsi untuk pos ronda bagi warga masyarakat desa. Warga masyarakat menjadikan Gardu menjadi base camp untuk ronda di malam hari. Bagi beberapa warga yang mendapat jatah piket ronda selalu berada di Gardu ronda tersebut dengan sesekali berkeliling desa untuk berjaga-jaga.
Seringkali dari gardu terdengar obrolan-obrolan ala masyarakat desa yang tidak tersistematis, mengalir sesuai dengan perkembangan yang sedang terjadi dan seringkali yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat. Dari obrolan berkait tetangga baru, harga cabe yang sangat mahal, urusan dapur ngepul sampai mengikuti persoalan pemerintah dengan segala intrik-intrik politik perebutan jabatan kekuasaan sebagaimana yang mereka lihat melalui layar Televisi yang ada di Gardu.
Obrolan dengan gaya khas masyarakat desa dipenuhi dengan canda tawa dan terkadang keluar umpatan-umpatan khas masyarakat desa melihat pejabat Negara yang korupsi. Suasana seperti ini nampak tidak ada batasan-batasan untuk memperbincangkan suatu hal yang dianggap serius antar setrata sosial ketika berkumpul di gardu.
Dengarkan saja bagaimana sekelas tukang becak, penjual asongan, buruh tani, penjual cilok berkumpul dengan warga yang berpangkat PNS berbincang-bincang tentang program pemerintah yang ada didesa atau program lain yang sedang hangat diperbincangkan. Meskipun mereka tidak paham dengan bahasa-bahasa proyek ataupun anggaran tapi terkadang dari obrolan di gardu menjadi sebuah kritik membangun dari masyarakat desa terhadap program pemerintah yang sering masuk ke desa-desa tapi tidak terlihat kemanfaatan yang dirasakan oleh rakyat. Dengan bahasa sehari-sehari, warga yang berkumpul di gardu pada malam hari serasa menikmati setiap perbincangan yang ada. Sebagaimana mereka menikmati segelas kopi dan sepiring singkong rebus di samping mereka.
Bisa jadi ada orang yang mengatakan jika tukang becak, penjual sayur, Buruh Migran, Petani, Sopir Angkot dan lain sebagainya tidak pas ketika mereka berbicara tentang PAD, anggaran untuk persalinan, program pemerintah yang kurang tepat sasaran. Ya, orang yang berbicara tidak pas tersebut karena sudah terbiasa dengan persoalan anggaran pemerintah sampai melupakan untuk siapa sebenarnya anggaran atau program pemerintah. Dan siapa sebenarnya yang paling berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Warga atau masyarakat desa juga berhak untuk mengetahui program pemerintah selama ini. Namun dikarenakan prose pengetahuan itu terhambat atau dihambat, masyarakat desa pun tidak tahu program apa yang paling pas dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Usulan-usulan melalui Musrembangdes terhambat atau malah dihambat oleh system menjadikan usulan yang berasal dari masyarakat desa tidak di dengar oleh pemerintah pusat.
Lalu dimana masyarakat bisa menyuarakan pikiran-pikiran mereka dengan gaya dan karakter mereka tanpa di buat-buat karena adanya tuntutan peran atau karena adanya sekat-sekat yang membatasi gaya dan cirri khas masyarakat desa bisa memberikan masukan dan usulan kepada pemerintah. biarkan mereka berbicara sesuai logat, gesture tubuh, dan karakter mereka yang tidak dibuat-buat karena malu ada atasan.
Bahasa ngapak merupakan bahasa yang lebih mudah bagi mereka, karena itu bahasa sehari-hari dan seperti yang digunakan ketika saat berada di Gardu. Sebut saja dengan Gardu Ngapak atau disingkat dengan GUPAK. Sebuah tempat dimana beberapa orang dari berbagai setrata sosial berkumpul untuk membicarakan persoalan yang dihadapi oleh warga masyarakat serta pemerintah yang memiliki kewajiban untuk mensejahterakan rakyat. Bukan rakyat yang mensejahterakan mereka (Pejabat).
Gardu Ngapak ini bisa menjadi tempat alternative bagi masyarakat untuk bebas berbicara sambil menikmati hidangan wedang kopi dan makanan ringan serta mendengarkan musik penggugah semangat dan pemberi inspirasi. Bukankah selama ini pejabat pemerintah jarang sekali untuk berkumpul dengan masyarakat pedesaan kecuali ketika memberikan bantuan atas nama pribadi atau karena kunjungan dinas.
Gardu ngapak bukanlah tempat yang nyaman bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan kenyamanan mereka di kursi jabatan dan tidak mau diusik dengan urusan suara-suara masyarakat bawah. Tapi Gardu Ngapak ini bisa menjadi tempat yang nyaman bagi pejabat pemerintah yang betul-betul berfikir dan menjalankan program pemerintah untuk Masyarakat yang sangat membutuhkan.
Gardu Ngapak bukanlah gardu biasa, tapi gardu yang luar biasa tempat dimana tidak ada lagi sekat-sekat setatus sosial yang membatasi mereka atau karena terbatasi oleh jas hitam dengan pin emas di dada kirinya.
Tentang Gupak, Gardu Ngapak, silahkan lihat disini.